Selasa, 07 Januari 2014

Sudah Siap Masuk Dunia Kerja?

Rachmad Faisal Harahap - Okezone
JAKARTA - Lulus kuliah merupakan hal yang membanggakan. Tak hanya bagi kamu saja, orangtua, sahabat, teman, dan seluruh keluarga juga ikut senang. Mereka pun biasanya akan mengucapkan selamat.

Nah, setelah lulus kuliah apa yang akan kalian lakukan? Biasanya pertanyaan seperti ini datang diiringi ucapan selamat yang mendarat untukmu. Tak jarang, kita sedikit sebal dengan pertanyaan semacam itu karena belum tahu akan mencari pekerjaan di mana.

Adanya desakan dari orang sekitar untuk segera meniti karir mungkin membuatmu sedikit gerah. Padahal, kamu inginnya bersantai sejenak sebelum melakukan jenjang yang lebih serius lagi.

Sebelum masuk ke dunia kerja, ada baiknya kamu mengetahui beberapa hal ini agar tidak dicap kekanak-kanakan oleh teman kerja. Melansir Huffington Post, Jumat (3/1/2014), berikut fakta mengenai dunia kerja yang sesungguhnya.

1. Kamu harus paham jika perguruan tinggi dan masa sekolah tidak seperti dunia kerja.

2. Kalian akan dipaksa untuk sementara waktu untuk berkompromi dengan impian kamu karena harus membayar uang sewa kontrak rumah. Tidak akan ada "instruktur" khusus dalam hidupmu, dan kamu tidak bisa mengeluh kepada atasanmu.

3. Kampus dirancang untuk memenuhi kebutuhan kalian. Namun, dunia kerja adalah tentang bagaimana menangani kebutuhan perusahaan tempat kalian kerja. Jika melakukan kesalahan secara terus-menerus, bisa jadi membuat kalian dipecat. Jadi, kalian harus belajar menghadapi cara-cara ketika sedang kesulitan.

4. Walaupun kalian baru sekadar magang di sebuah perusahaan atau sudah mempunyai pekerjaan tetap, membayar uang sewa rumah alias ngekos atau ngontrak akan mengubah pandangan kalian.

5. Bekerjalah dengan jujur untuk kebaikan dan kebenaran.

Ada banyak nasihat besar di luar sana, tapi itu tidak akan pernah menjadi sempurna. Kalian harus menyadari bahwa setiap kali orang beranjak dewasa, selalu ada pengalaman yang bisa diterapkan. Nah, selamat mencoba.

Dosen ITS Ubah Musibah Jadi Berkah

Margaret Puspitarini - Okezone
Ilustrasi: Maket lumpur Lapindo. (Foto: dok. Okezone)
JAKARTA - Di balik musibah selalu ada berkah tersembunyi. Demikian pula dengan lumpur Lapindo yang melanda Sidoarjo, Jawa Timur. Di tangan Lukman Noerochim dan Amien Widodo, lumpur panas tersebut disulap menjadi baterai lithium.

Hal itu dilakukan dengan menggunakan sebuah alat pengekstraksi Lithium yang mereka ciptakan sendiri. Karya tersebut ternyata sukses menarik perhatian para pejabat teras negeri ini. Bahkan, akhir tahun lalu, mereka diminta untuk melakukan presentasi di Kompleks Sekretariat Negara, Jakarta.

Ide untuk melakukan riset terkait lumpur panas Sidoarjo berawal dari Amien Widodo yang menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Bencana ITS. Dia menginginkan adanya kebermanfaatan dari semburan lumpur panas Sidoarjo yang masih belum berhenti sampai sekarang.

Untuk merealisasikan keinginan tersebut, dia pun mengajak Lukman Noerochim sebagai partner risetnya. "Saya pun tertarik untuk ikut meneliti,'' ujar Lukman yang merupakan dosen Jurusan Teknik Material dan Metalurgi ITS itu, seperti dinukil dari ITS Online, Selasa (7/1/2014).

Lukman menjelaskan, setelah beberapa kali melakukan pengujian, mereka menemukan sesuatu yang menarik dalam komponen penyusun lumpur panas Sidoarjo yang memiliki kandungan Lithium 70 kali lebih besar dibandingkan dengan yang biasa ditemukan di air laut. "Kandungan lithium pada lumpur ini benar-benar bisa kita manfaatkan,'' ungkapnya.

Hal itu kemudian menginspirasi keduanya untuk menciptakan sebuah alat pengekstraksi lithium. Alat tersebut berupa membran yang mampu mengekstrak dan mengolah kandungan lithium pada lumpur. Hasil estrakan tersebut nantinya dapat digunakan sebagai katoda untuk pembuatan baterai.

Dia mengungkap, sistem kerja dari membran itu cukup sederhana. "Alat yang mengandung Lithium-Mangan-Dioksida tersebut hanya tinggal dicelupkan ke dalam lumpur. Kemudian, membran akan bekerja secara otomatis menyerap kandungan lithium yang ada pada lumpur," papar Lukman.

Rencananya, pada 2014, penelitian akan dilanjutkan menuju arah produksi baterai lithium siap pakai mengingat konsumsi baterai lithium cukup besar. Apalagi, masyarakat Indonesia juga masih belum mandiri dalam hal pembuatannya.

"Sebuah potensi besar dari hasil penelitian terhadap lumpur Sidoarjo ini. Sudah waktunya Indonesia mandiri,'' imbuhnya.

Menurut Lukman, penelitian itu memang ditujukan untuk mencari nilai guna dari lumpur panas Sidoarjo. Akan tetapi, maksud lain yang tidak kalah penting ialah mengajak pihak-pihak tertentu untuk memikirkan solusi tepat atas musibah yang menimpa masyarakat Sidoarjo tersebut.

"Penelitian ini kami harap bisa memicu pihak lain untuk ikut menyelesaian masalah lumpur Sidoarjo dengan segera,'' tutur Lukman.

Mahal, Mahasiswa ITS Bikin Printer 3D Sendiri

Margaret Puspitarini - Okezone
Mahasiswa ITS pembuat printer 3D. (Foto: dok. ITS)
JAKARTA - Printer pencetak objek tiga dimensi (3D) berhasil membuat tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya jatuh hati. Namun harga printer yang jauh dari ramah dengan kantong mahasiswa membuat mereka mengurungkan niat tersebut.

Alih-alih membeli, Aditya Brahmana, Didik Purwanto, dan Farras Kinan justru terpacu untuk membuat printer 3D ala mereka. Tidak disangka, printer 3D rakitan mereka berhasil meraih juara pertama kategori Embedded System dalam Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) 6 2013.

Ketiga mahasiswa angkatan 2011 ini memang penggila teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka tidak pernah absen mengikuti perkembangan teknologi, salah satunya teknologi printer. Hingga akhirnya, mereka menemukan printer tiga dimensi yang berharga lebih dari Rp20 juta.

''Harga yang benar-benar tidak murah untuk mahasiswa,'' ujar Didik Purwanto, seperti disitat dari ITS Online, Senin (6/1/2014).

Aditya Brahmana mengungkap, printer yang diproduksi di luar negeri tersebut dapat mencetak bentuk apa pun dalam desain 3D. Mulai gambar bangunan, patung, maket, hingga organ tubuh manusia, yakni jantung. ''Tintanya dari sel-sel darah yang ada di tubuh manusia, yang kemudian membentuk jantung,'' kata Adit.

Sejak saat itu, tiga sekawan ini terobsesi untuk memilikinya. Mereka pun akhirnya mencoba membuat printer 3D versi mereka sendiri. ''Kami hanya mengadopsi teknologinya saja dari printer yang sudah dijual itu,'' jelasnya.

Teknologi yang digunakan ialah Additive Manufacturing, yakni proses pembuatan benda padat tiga dimensi yang berasal dari sebuah model digital. Teknik ini diimplementasikan secara berurutan mulai dari pencetakan lapisan paling bawah hingga lapisan paling atas. Urutan tersebut didasarkan pada koordinat yang telah ditentukan lewat software desain tiga dimensi.

Menurut Adit, printer 3D versi mahasiswa ITS ini masih tergolong sederhana. Pasalnya, baru dapat mencetak objek yang berasal dari tinta plastik saja. Selain itu, objek yang bisa dicetak hanya satu warna, bergantung pada tinta plastik warna apa yang dimasukkan. Tinta plastik yang digunakan printer 3D karya trio mahasiswa kampus perjuangan ini berjenis PLA Polilatic Acid.

Akan tetapi, meskipun sudah berhasil menciptakan sebuah teknologi, beberapa kendala sempat menghampiri tiga mahasiswa ITS tersebut ketika proses pengerjaan. Salah satunya ialah membedakan fungsi microcontroller A dengan microcontroller yang lain.

Sehingga, mereka harus mencoba satu per satu untuk mengetahui fungsi microcontroller yang paling maksimal. ''Kami melakukan trial and error hingga menemukan yang paling bagus,'' tutur Adit.

Setelah mendapat cetakan terbaik, mereka pun mencoba peruntungan dengan mengikutsertakan printer 3D tersebut ke beberapa kompetisi teknologi seperti Gemastik. Tidak disangka, sambutan dari masyarakat cukup tinggi terhadap printer yang mereka rakit.

Akademi Angkatan Udara (AAU)

Mahasiswa AAU. (Foto: dokumentasi AAU)
AAU berkedudukan di Yogyakarta merupakan salah satu lembaga pendidikan militer di Lingkungan TNI/TNI AU dan masuk dalam kategori lembaga pendidikan tinggi di lingkungan nasional.

Status: Negeri
Jalan Laksda Adi Sucipto km 10
Yogyakarta
Tel: 0274-486922

Email: info@aau.ac.id
Website: http://aau.ac.id/

Prodi:
1. Teknik Elektronika
2. Teknik Aeronautika
3. Teknik Manajemen Industri.

Mau Lancar Isi PDSS? Hindari Jam Sibuk

Margaret Puspitarini - Okezone
Agar koneksi internet berjalan lancar saat pengisian PDSS, pilihlah jam yang tidak sibuk. (Foto: Okezone)
JAKARTA - Koneksi internet kerap kali menjadi alasan gagalnya proses pendaftaran secara online. Demikian pula dalam tahapan awal pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014 dengan mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) oleh sekolah.

Demikian disampaikan oleh Koordinator bidang IT SNMPTN 2014 Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Sudjadi. "Problem yang sering dijumpai adalah mengenai koneksi internet. Koneksi ini sangat mempengaruhi proses baik pendaftaraan PDSS ataupun pendaftaran tahapan selanjutnya," kata Sudjadi, seperti dinukil dari situs Undip, Selasa (7/1/2014).

Menurut Sudjadi, gangguan koneksi tersebut dapat dipengaruhi beberapa hal. Dia pun mengibaratkan koneksi internet seperti kita ingin pergi ke suatu tempat. Kita harus memilih transportasi yang tepat agar bisa cepat tiba di tujuan.

"Jadi, ketika kita ingin pergi ke suatu tempat, cepat tidaknya kita sampai adalah masalah bagaimana kita memilih kendaraan atau transportasi. Ini kita analogikan dengan peralatan komputer apa yang kita pakai," jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk menuju tempat tujuan dengan cepat, dibutuhkan jalan yang lancar tanpa hambatan. Dalam hal ini, pihak sekolah harus memilih server tercepat.

Selain itu, pihak sekolah juga harus memperhatikan waktu saat melakukan pendaftaran. Artinya, koneksi akan lebih cepat ketika pengisian PDSS dilakukan di luar jam sibuk.

"Cara menyiasatinya kita harus pintar-pintar memilih waktu yang tepat saat upload data selain memperhatikan sarana dan prasarana yang harus kita lengkapi pula," imbuh Sudjadi.

Arsitek UI Akan Renovasi Gedung C FISIP

Rifa Nadia Nurfuadah - Okezone
Arsitek UI akan dikerahkan untuk merenovasi gedung FISIP yang terbakar tadi pagi. (Foto: Marieska/Okezone)
DEPOK - Pascakebakaran yang melanda gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), para akademisi dan pejabat UI tengah berhitung berapa total kerugian. Rencana renovasi gedung pun juga segera dibahas.

Dekan FISIP UI Arie Setiabudi Soesilo mengatakan, pihaknya akan melibatkan para ahli atau arsitek di Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil UI. Mereka akan mempertimbangkan apakah gedung tersebut harus diruntuhkan seluruhnya atau masih kuat untuk direnovasi.

"Lihat dulu dari teman-teman arsitek dan teknik sipil, kami punya banyak doktor yang mengerti struktur gedung. Kondisi masih aman atau tidak, atau bisa enggak dibangun tanpa diruntuhkan," katanya di lokasi, Selasa (7/1/2014).

Arie menambahkan kejadian tersebut merupakan pembelajaran bagi seluruh fakultas untuk mengantisipasi kejadian serupa. Springler dan hidrant pun akan segera dievaluasi.

"Ini musibah yang mengingatkan kita semua. Warek juga sudah meninjau," tuturnya.

Arie menegaskan bahwa gedung tersebut juga diasuransikan. Totalnya nilai asuransi tersebut sekira Rp2-3 miliar.

"Saya sudah cek gedung ini diasuransikan, total berapa kerugian masih belum bisa dihitung," tegasnya.

FISIP UI Terbakar, 3.000 Buku Koleksi Sosiolog UI Musnah

Marieska Harya Virdhani - Okezone
Ilustrasi: perpustakaan. (Foto: dok. Okezone)
DEPOK - Gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) tadi pagi terbakar. Selain melalap bangunan perkuliahan, si jago merah juga memusnahkan harta paling berharga, yakni koleksi buku milik Departemen Sosiologi FISIP UI.

Dekan FISIP UI Arie Setabudi Soesilo menuturkan, sedikitnya ada koleksi 3.000 buku milik sosiolog UI ternama. Koleksi tersebut milik Doktor Iwan Gardono Sujatmiko.

"Memang bagi kami buku itu harta berharga, di lantai tiga di laboratorium sosiologi ada koleksi Dr Iwan Gardono Sujatmiko. Beliau adalah sosiolog," katanya di lokasi, Selasa (7/1/2014).

Arie menambahkan buku tersebut merupakan koleksi yang dikumpulkan oleh Doktor Iwan saat menempuh studi di Harvard University, Amerika. Koleksi tersebut bahkan ditulis dalam waktu sepuluh tahun.

"Buku tersebut dikumpulkan beliau saat studi doktoral di Havard University. Disimpan di lab sosiologi. Buat kami kalangan akademisi buku nilainya berharga," tandasnya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost