Selasa, 07 Januari 2014

Sudah Siap Masuk Dunia Kerja?

Rachmad Faisal Harahap - Okezone
JAKARTA - Lulus kuliah merupakan hal yang membanggakan. Tak hanya bagi kamu saja, orangtua, sahabat, teman, dan seluruh keluarga juga ikut senang. Mereka pun biasanya akan mengucapkan selamat.

Nah, setelah lulus kuliah apa yang akan kalian lakukan? Biasanya pertanyaan seperti ini datang diiringi ucapan selamat yang mendarat untukmu. Tak jarang, kita sedikit sebal dengan pertanyaan semacam itu karena belum tahu akan mencari pekerjaan di mana.

Adanya desakan dari orang sekitar untuk segera meniti karir mungkin membuatmu sedikit gerah. Padahal, kamu inginnya bersantai sejenak sebelum melakukan jenjang yang lebih serius lagi.

Sebelum masuk ke dunia kerja, ada baiknya kamu mengetahui beberapa hal ini agar tidak dicap kekanak-kanakan oleh teman kerja. Melansir Huffington Post, Jumat (3/1/2014), berikut fakta mengenai dunia kerja yang sesungguhnya.

1. Kamu harus paham jika perguruan tinggi dan masa sekolah tidak seperti dunia kerja.

2. Kalian akan dipaksa untuk sementara waktu untuk berkompromi dengan impian kamu karena harus membayar uang sewa kontrak rumah. Tidak akan ada "instruktur" khusus dalam hidupmu, dan kamu tidak bisa mengeluh kepada atasanmu.

3. Kampus dirancang untuk memenuhi kebutuhan kalian. Namun, dunia kerja adalah tentang bagaimana menangani kebutuhan perusahaan tempat kalian kerja. Jika melakukan kesalahan secara terus-menerus, bisa jadi membuat kalian dipecat. Jadi, kalian harus belajar menghadapi cara-cara ketika sedang kesulitan.

4. Walaupun kalian baru sekadar magang di sebuah perusahaan atau sudah mempunyai pekerjaan tetap, membayar uang sewa rumah alias ngekos atau ngontrak akan mengubah pandangan kalian.

5. Bekerjalah dengan jujur untuk kebaikan dan kebenaran.

Ada banyak nasihat besar di luar sana, tapi itu tidak akan pernah menjadi sempurna. Kalian harus menyadari bahwa setiap kali orang beranjak dewasa, selalu ada pengalaman yang bisa diterapkan. Nah, selamat mencoba.

Dosen ITS Ubah Musibah Jadi Berkah

Margaret Puspitarini - Okezone
Ilustrasi: Maket lumpur Lapindo. (Foto: dok. Okezone)
JAKARTA - Di balik musibah selalu ada berkah tersembunyi. Demikian pula dengan lumpur Lapindo yang melanda Sidoarjo, Jawa Timur. Di tangan Lukman Noerochim dan Amien Widodo, lumpur panas tersebut disulap menjadi baterai lithium.

Hal itu dilakukan dengan menggunakan sebuah alat pengekstraksi Lithium yang mereka ciptakan sendiri. Karya tersebut ternyata sukses menarik perhatian para pejabat teras negeri ini. Bahkan, akhir tahun lalu, mereka diminta untuk melakukan presentasi di Kompleks Sekretariat Negara, Jakarta.

Ide untuk melakukan riset terkait lumpur panas Sidoarjo berawal dari Amien Widodo yang menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Bencana ITS. Dia menginginkan adanya kebermanfaatan dari semburan lumpur panas Sidoarjo yang masih belum berhenti sampai sekarang.

Untuk merealisasikan keinginan tersebut, dia pun mengajak Lukman Noerochim sebagai partner risetnya. "Saya pun tertarik untuk ikut meneliti,'' ujar Lukman yang merupakan dosen Jurusan Teknik Material dan Metalurgi ITS itu, seperti dinukil dari ITS Online, Selasa (7/1/2014).

Lukman menjelaskan, setelah beberapa kali melakukan pengujian, mereka menemukan sesuatu yang menarik dalam komponen penyusun lumpur panas Sidoarjo yang memiliki kandungan Lithium 70 kali lebih besar dibandingkan dengan yang biasa ditemukan di air laut. "Kandungan lithium pada lumpur ini benar-benar bisa kita manfaatkan,'' ungkapnya.

Hal itu kemudian menginspirasi keduanya untuk menciptakan sebuah alat pengekstraksi lithium. Alat tersebut berupa membran yang mampu mengekstrak dan mengolah kandungan lithium pada lumpur. Hasil estrakan tersebut nantinya dapat digunakan sebagai katoda untuk pembuatan baterai.

Dia mengungkap, sistem kerja dari membran itu cukup sederhana. "Alat yang mengandung Lithium-Mangan-Dioksida tersebut hanya tinggal dicelupkan ke dalam lumpur. Kemudian, membran akan bekerja secara otomatis menyerap kandungan lithium yang ada pada lumpur," papar Lukman.

Rencananya, pada 2014, penelitian akan dilanjutkan menuju arah produksi baterai lithium siap pakai mengingat konsumsi baterai lithium cukup besar. Apalagi, masyarakat Indonesia juga masih belum mandiri dalam hal pembuatannya.

"Sebuah potensi besar dari hasil penelitian terhadap lumpur Sidoarjo ini. Sudah waktunya Indonesia mandiri,'' imbuhnya.

Menurut Lukman, penelitian itu memang ditujukan untuk mencari nilai guna dari lumpur panas Sidoarjo. Akan tetapi, maksud lain yang tidak kalah penting ialah mengajak pihak-pihak tertentu untuk memikirkan solusi tepat atas musibah yang menimpa masyarakat Sidoarjo tersebut.

"Penelitian ini kami harap bisa memicu pihak lain untuk ikut menyelesaian masalah lumpur Sidoarjo dengan segera,'' tutur Lukman.

Mahal, Mahasiswa ITS Bikin Printer 3D Sendiri

Margaret Puspitarini - Okezone
Mahasiswa ITS pembuat printer 3D. (Foto: dok. ITS)
JAKARTA - Printer pencetak objek tiga dimensi (3D) berhasil membuat tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya jatuh hati. Namun harga printer yang jauh dari ramah dengan kantong mahasiswa membuat mereka mengurungkan niat tersebut.

Alih-alih membeli, Aditya Brahmana, Didik Purwanto, dan Farras Kinan justru terpacu untuk membuat printer 3D ala mereka. Tidak disangka, printer 3D rakitan mereka berhasil meraih juara pertama kategori Embedded System dalam Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) 6 2013.

Ketiga mahasiswa angkatan 2011 ini memang penggila teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka tidak pernah absen mengikuti perkembangan teknologi, salah satunya teknologi printer. Hingga akhirnya, mereka menemukan printer tiga dimensi yang berharga lebih dari Rp20 juta.

''Harga yang benar-benar tidak murah untuk mahasiswa,'' ujar Didik Purwanto, seperti disitat dari ITS Online, Senin (6/1/2014).

Aditya Brahmana mengungkap, printer yang diproduksi di luar negeri tersebut dapat mencetak bentuk apa pun dalam desain 3D. Mulai gambar bangunan, patung, maket, hingga organ tubuh manusia, yakni jantung. ''Tintanya dari sel-sel darah yang ada di tubuh manusia, yang kemudian membentuk jantung,'' kata Adit.

Sejak saat itu, tiga sekawan ini terobsesi untuk memilikinya. Mereka pun akhirnya mencoba membuat printer 3D versi mereka sendiri. ''Kami hanya mengadopsi teknologinya saja dari printer yang sudah dijual itu,'' jelasnya.

Teknologi yang digunakan ialah Additive Manufacturing, yakni proses pembuatan benda padat tiga dimensi yang berasal dari sebuah model digital. Teknik ini diimplementasikan secara berurutan mulai dari pencetakan lapisan paling bawah hingga lapisan paling atas. Urutan tersebut didasarkan pada koordinat yang telah ditentukan lewat software desain tiga dimensi.

Menurut Adit, printer 3D versi mahasiswa ITS ini masih tergolong sederhana. Pasalnya, baru dapat mencetak objek yang berasal dari tinta plastik saja. Selain itu, objek yang bisa dicetak hanya satu warna, bergantung pada tinta plastik warna apa yang dimasukkan. Tinta plastik yang digunakan printer 3D karya trio mahasiswa kampus perjuangan ini berjenis PLA Polilatic Acid.

Akan tetapi, meskipun sudah berhasil menciptakan sebuah teknologi, beberapa kendala sempat menghampiri tiga mahasiswa ITS tersebut ketika proses pengerjaan. Salah satunya ialah membedakan fungsi microcontroller A dengan microcontroller yang lain.

Sehingga, mereka harus mencoba satu per satu untuk mengetahui fungsi microcontroller yang paling maksimal. ''Kami melakukan trial and error hingga menemukan yang paling bagus,'' tutur Adit.

Setelah mendapat cetakan terbaik, mereka pun mencoba peruntungan dengan mengikutsertakan printer 3D tersebut ke beberapa kompetisi teknologi seperti Gemastik. Tidak disangka, sambutan dari masyarakat cukup tinggi terhadap printer yang mereka rakit.

Akademi Angkatan Udara (AAU)

Mahasiswa AAU. (Foto: dokumentasi AAU)
AAU berkedudukan di Yogyakarta merupakan salah satu lembaga pendidikan militer di Lingkungan TNI/TNI AU dan masuk dalam kategori lembaga pendidikan tinggi di lingkungan nasional.

Status: Negeri
Jalan Laksda Adi Sucipto km 10
Yogyakarta
Tel: 0274-486922

Email: info@aau.ac.id
Website: http://aau.ac.id/

Prodi:
1. Teknik Elektronika
2. Teknik Aeronautika
3. Teknik Manajemen Industri.

Mau Lancar Isi PDSS? Hindari Jam Sibuk

Margaret Puspitarini - Okezone
Agar koneksi internet berjalan lancar saat pengisian PDSS, pilihlah jam yang tidak sibuk. (Foto: Okezone)
JAKARTA - Koneksi internet kerap kali menjadi alasan gagalnya proses pendaftaran secara online. Demikian pula dalam tahapan awal pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014 dengan mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) oleh sekolah.

Demikian disampaikan oleh Koordinator bidang IT SNMPTN 2014 Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Sudjadi. "Problem yang sering dijumpai adalah mengenai koneksi internet. Koneksi ini sangat mempengaruhi proses baik pendaftaraan PDSS ataupun pendaftaran tahapan selanjutnya," kata Sudjadi, seperti dinukil dari situs Undip, Selasa (7/1/2014).

Menurut Sudjadi, gangguan koneksi tersebut dapat dipengaruhi beberapa hal. Dia pun mengibaratkan koneksi internet seperti kita ingin pergi ke suatu tempat. Kita harus memilih transportasi yang tepat agar bisa cepat tiba di tujuan.

"Jadi, ketika kita ingin pergi ke suatu tempat, cepat tidaknya kita sampai adalah masalah bagaimana kita memilih kendaraan atau transportasi. Ini kita analogikan dengan peralatan komputer apa yang kita pakai," jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk menuju tempat tujuan dengan cepat, dibutuhkan jalan yang lancar tanpa hambatan. Dalam hal ini, pihak sekolah harus memilih server tercepat.

Selain itu, pihak sekolah juga harus memperhatikan waktu saat melakukan pendaftaran. Artinya, koneksi akan lebih cepat ketika pengisian PDSS dilakukan di luar jam sibuk.

"Cara menyiasatinya kita harus pintar-pintar memilih waktu yang tepat saat upload data selain memperhatikan sarana dan prasarana yang harus kita lengkapi pula," imbuh Sudjadi.

Arsitek UI Akan Renovasi Gedung C FISIP

Rifa Nadia Nurfuadah - Okezone
Arsitek UI akan dikerahkan untuk merenovasi gedung FISIP yang terbakar tadi pagi. (Foto: Marieska/Okezone)
DEPOK - Pascakebakaran yang melanda gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), para akademisi dan pejabat UI tengah berhitung berapa total kerugian. Rencana renovasi gedung pun juga segera dibahas.

Dekan FISIP UI Arie Setiabudi Soesilo mengatakan, pihaknya akan melibatkan para ahli atau arsitek di Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil UI. Mereka akan mempertimbangkan apakah gedung tersebut harus diruntuhkan seluruhnya atau masih kuat untuk direnovasi.

"Lihat dulu dari teman-teman arsitek dan teknik sipil, kami punya banyak doktor yang mengerti struktur gedung. Kondisi masih aman atau tidak, atau bisa enggak dibangun tanpa diruntuhkan," katanya di lokasi, Selasa (7/1/2014).

Arie menambahkan kejadian tersebut merupakan pembelajaran bagi seluruh fakultas untuk mengantisipasi kejadian serupa. Springler dan hidrant pun akan segera dievaluasi.

"Ini musibah yang mengingatkan kita semua. Warek juga sudah meninjau," tuturnya.

Arie menegaskan bahwa gedung tersebut juga diasuransikan. Totalnya nilai asuransi tersebut sekira Rp2-3 miliar.

"Saya sudah cek gedung ini diasuransikan, total berapa kerugian masih belum bisa dihitung," tegasnya.

FISIP UI Terbakar, 3.000 Buku Koleksi Sosiolog UI Musnah

Marieska Harya Virdhani - Okezone
Ilustrasi: perpustakaan. (Foto: dok. Okezone)
DEPOK - Gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) tadi pagi terbakar. Selain melalap bangunan perkuliahan, si jago merah juga memusnahkan harta paling berharga, yakni koleksi buku milik Departemen Sosiologi FISIP UI.

Dekan FISIP UI Arie Setabudi Soesilo menuturkan, sedikitnya ada koleksi 3.000 buku milik sosiolog UI ternama. Koleksi tersebut milik Doktor Iwan Gardono Sujatmiko.

"Memang bagi kami buku itu harta berharga, di lantai tiga di laboratorium sosiologi ada koleksi Dr Iwan Gardono Sujatmiko. Beliau adalah sosiolog," katanya di lokasi, Selasa (7/1/2014).

Arie menambahkan buku tersebut merupakan koleksi yang dikumpulkan oleh Doktor Iwan saat menempuh studi di Harvard University, Amerika. Koleksi tersebut bahkan ditulis dalam waktu sepuluh tahun.

"Buku tersebut dikumpulkan beliau saat studi doktoral di Havard University. Disimpan di lab sosiologi. Buat kami kalangan akademisi buku nilainya berharga," tandasnya.

Kebakaran Jadi "Trending Topic" di Kampus UI

Marieska Harya Virdhani - Okezone
Kebakaran di UI. (Foto: Marieska Harya/Okezone)
DEPOK - Kebakaran di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) masih menjadi topik perbincangan hangat para akademisi selaa satu hari ini. Peristiwa tersebut juga menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa, dosen, hingga tukang ojek dan masyarakat yang melintasi UI.

Tak sedikit jumlah pengendara motor yang berhenti hanya untuk melihat reruntuhan gedung C yang terbakar itu. Meski sedang libur semester, tak sedikit pula mahasiswa yang menengok gedung tersebut. Topik tersebut juga hangat diperbincangkan oleh para dosen sosiologi UI yang sedang meminum kopi mampir ke Starbucks Perpustakaan UI. Mereka juga menyesalkan dokumen-dokumen penting yang ikut terbakar.

Mantan Dekan FISIP sekaligus dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial Bambang Shergy Laksmono mengakui memang penting untuk memikirkan perencanaan gedung dan sistem cepat tanggap darurat terhadap kebakaran. Pihaknya selama ini baru sebatas merancang fungsi keamanan dan estetika gedung saja.

"Kita sudah mendalami dan merancang fungsi keamanan dan estetika. Terjadi ternyata malah yang terjadi justru kebakaran dan itu tak masuk dalam perencanaan kami, tetapi kalau keamanan sudah kami antisipasi misalnya lemari besi sudah ada kalau ada pencurian," katanya di FISIP UI, Selasa (7/1/2014).

Saat kejadian, menurut Bambang seluruh upaya sudah dikerahkan. Salah satunya dengan menyemprotkan Alat Pemadam Kebakaran Ringan (Appar). "Semua lantai sudah dilengkapi dengan Appar, tetapi ternyata enggak cukup. Enggak cukup menghambat api. Sudah diupayakan oleh petugas untuk menyemprot," jelasnya.

Perbincangan hangat soal kebakaran tersebut juga ramai melalui jejaring sosial para mahasiswa UI dan akademisi.

KKN, Mahasiswa Harus Bisa Jaga Reputasi Kampus

Margaret Puspitarini - Okezone
Pelapasan mahasiswa Unpad peserta KKN. (Foto: dok. Unpad)
JAKARTA - Sebanyak 3.505 mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung siap mengabdikan diri mereka kepada masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) Program Pengabdian kepada Masyarakat Dosen (PPMD) Periode Januari-Februari 2014. Rombongan dibagi dalam dua periode keberangkatan, yakni Selasa (7/1/2014) ini dan esok hari.

Menurut Kepala Pusat Pengembangan KKNM Unpad Unang Yunasaf, pelaksanaan KKNM kali ini disebar ke 196 desa dan 28 kecamatan di empat kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Tasik, Ciamis, Garut, dan Sumedang. Dalam kegiatan tersebut, Unpad juga menerjunkan 98 Dosen Pembimbing Lapangan.

"Adapun untuk pemberangkatan hari ini dijadwalkan untuk dua kabupaten, yakni Tasik dan Ciamis. Sementara untuk Kabupaten Garut dan Sumedang akan diberangkatkan besok," tutur Unang, seperti dinukil dari laman Unpad, Selasa (7/1/2014).

Unang berharap, peserta KKNM PPMD yang dijadwalkan selama satu bulan itu dapat belajar dari masyarakat, dengan aktivitas utama yaitu melakukan kajian berbagai aspek kehidupan masyarakat di desa yang ditempati. "Selain itu, peserta juga harus dapat berbaur dan belajar hidup sebagai masyarakat di desa sana," imbuhnya.

Pemberangkatan KKNM PPMD ini secara resmi dilepas oleh Wakil Rektor Bidang PPM dan Kerjasama Unpad Setiawan dengan memakaikan topi KKNM kepada dua perwakilan mahasiswa. Dalam pidatonya, Setiawan berpesan agar peserta KKNM dapat menjaga nama baik almamater di desa yang ditempati.

Selain itu, kolaborasi antara mahasiswa dengan DPL di lokasi KKNM diharapkan dapat memperlihatkan karakter sebagai mahasiswa, sehingga dapat memberikan kesan yang positif kepada masyarakat desa.

"Kami harapkan juga mahasiswa banyak membangun sikap empati kepada masyarakat dan sejauh mungkin bisa meningkatkan sensitivitas terhadap masalah yang ada di masyarakat," ujar Setiawan.

Apabila dua sikap tersebut dapat dilakukan, tambahnya, maka pelaksanaan KKNM tersebut dapat memunculkan refleksi dari permasalahan yang ada di desa. Sehingga, dapat dihasilkan ide-ide inovatif untuk mengatasi masalah tersebut. "Yang terpenting, mohon bisa menyerap secepat mungkin kultur yang ada di masyarakat tersebut," tuturnya.

Sosialisasi SNMPTN 2014, UNS Undang 250 Sekolah

Bramantyo - Okezone
Kampus UNS. (Foto: dok. UNS)
SOLO - Meski sudah berjalan beberapa tahun, masih banyak sekolah belum terbiasa dengan sistem Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). Untuk itulah, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta akan menggelar sosialisasi SNMPTN 2014 di
Kampus UNS, Kentingan Solo, Jawa Tengah pada Rabu, 8 Januari 2014.

Ketua Panitia SNMPTN 2014 UNS, Prof Drs. Sutarno, MSc.PhD menjelaskan, UNS mengundang 250 sekolah negeri maupun swasta, terutama sekolah di wilayah eks karesidenan Surakarta, dalam sosialisasi tersebut. Bahkan, mereka juga mengundang sekolah yang  masuk daftar hitam SNMPTN 2014.

"Dalam sosialisasi kali ini UNS memang tidak mendatangi sekolah-sekolah, tetapi sengaja mengundang mereka. Sosialisasi diadakan dengan tujuan menjelaskan perihal proses pendaftaran siswa yang akan mengikuti SNMPTN 2014," kata Sutarno kepada wartawan, di Rektorat UNS, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/1/2014).

Salah satu poin yang akan disampaikan adalah mengingatkan sekolah yang belum memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) untuk segera mengurus NPSN tersebut. Sebab jika sekolah belum memiliki NPSN, maka mereka tidak bisa mengunggah data pada PDSS sehingga pendaftaran siswanya pada SNMPTN 2014 tidak dapat diproses.

"Kami juga akan mengingatkan, tahun lalu memang masih ada toleransi bagi sekolah tanpa NPSN maupun murid yang belum memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN). Namun tahun ini tidak akan ada toleransi lagi dari Panitia SNMPTN,'' tegasnya.

Help Desk Siap Bantu Calon Pendaftar SNMPTN

Margaret Puspitarini - Okezone
Undip ditunjuk menjadi helpdesk SNMPTN 2014. (Foto: dok. Undip)
JAKARTA - Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ditunjuk sebagai pusat layanan informasi atau Help Desk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014. Tugasnya, memberikan berbagai informasi terkait mekanisme hingga tanggal penting yang perlu diketahui sekolah maupun siswa.

Rektor Undip Sudharto P Hadi menyatakan, pusat layanan informasi tersebut bertempat di LP2MP Undip Gedung Widya Puraya. Sebanyak 20 mahasiswa telah dibekali informasi penting mengenai SNMPTN dan mulai melayani pertanyaan dari calon peserta.

"Dengan adanya partisipasi dari mahasiswa pada bagian pusat layanan SNMPTN Help Desk ini, tentunya sangat membantu dalam memperlancar pelayanan informasi penting seputar SNMPTN," ungkap Sudharto, seperti dikutip dari laman Undip, Selasa (7/1/2014).

Dia menjelaskan, Help Desk diperuntukan bagi seluruh calon peserta yang membutuhkan info SNMPTN. Mereka akan membantu memberikan informasi mengenai ketentuan umum dan persyaratan, pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS), tata cara pendaftaran, jadwal pelaksanaan, hingga jumlah pilihan PTN dan program studi.

Menurut Sudharto, PDSS merupakan basis data yang berisi kinerja sekolah dan prestasi akademik para siswa. "Beberapa ketentuan sekolah yang berhak mengikutsertakan siswanya dalam SNMPTN di antaranya sekolah yang mempunyai Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) serta siswa memiliki prestasi akademik dan nilai yang konsisten. Selain indeks siswa, indeks sekolah berupa presatasi sekolah juga dipertimbangkan, serta indeks wilayahnya," tuturnya.

Namun, Sudharto menegaskan agar sekolah tidak melakukan manipulasi data saat mengisi PDSS. Sebab, jika terbukti melakukan manipulasi, sekolah dan siswa tersebut yang akan merasa rugi.

"Jika terjadi manipulasi data, jelas tidak akan diterima sedangkan sanksi lain adalah blacklist sekolah yang memanipulasi tadi," imbuh Sudharto.

Terakhir, Sudharto mengimbau kepada seluruh calon peserta dan masing-masing sekolah untuk segera menjalankan prosedur pendaftaran sesuai dengan langkah-langkah yang sudah ditetapkan. Tidak perlu menunggu batas akhir untuk melakukan pengisian PDSS karena di akhir justru server akan sangat sibuk.

"Jangan sampai menunggu batas akhir, karena biasanya sering dijumpai banyak permasalahan di batas batas penutupan keluhan susah untuk mengakses. Hal ini disebabkan banyaknya yang ingin masuk sehingga jaringan tentunya akan sibuk," paparnya.

UB Diserbu Pasukan Putih Abu-Abu

Margaret Puspitarini - Okezone 

Kunjungan dua SMA ke UB. (Foto: dokumentasi UB)
JAKARTA - Universitas Brawijaya (UB) Malang kembali mendapat kunjungan dari para pelajar SMA. Tidak tanggung-tanggung, dalam satu hari, UB diserbu dua sekolah asal Yogyakarta dan Sidoarjo, Jawa Timur.

Kunjungan pertama dari SMA 7 Muhammadiyah Yogyakarta. Sebanyak 135 siswa  kelas XII SMA 7 Muhammadiyah Yogyakarta yang ditemani tujuh guru pendamping mengikuti dengan seksama penjelasan dari staf akademik, Edy Suyanto.

Pada kesempatan itu, Edy menjelaskan tentang profil UB, mulai dari letak geografis, biaya pendidikan, beasiswa Bidik Misi, dan profil setiap fakultas. Dia mengungkap, tahun ini beberapa fakultas di UB membuka program studi (prodi) baru.

Maka, kata Edy, calon mahasiswa harus mempersiapakan diri untuk bisa menentukan pilihan yang sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. "Untuk memilih prodi yang sesuai, harus memiliki strategi agar tidak salah memilih. Bisa membedakan antara Prodi bidang IPA atau IPS," papar Edy, seperti dilansir laman UB, Selasa (7/1/2014).

Salah seorang guru pembimbing SMAN 7 Muhammadiyah Yogyakarta Suyanto mengaku, kunjungan ke UB merupakan agenda study tour yang direncanakan oleh sekolah. Sebelumnya mereka berkunjung ke dua universitas di Surabaya, yakni Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Menurut Suyanto, dengan mengunjungi langsung calon kampus idaman, para murid diharapkan semakin termotivasi untuk menjadi bagian dari kampus tersebut. "Kegiatan ini diharapkan membuat siswa lebih termotivasi untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi," ujar Suyanto.

Kemudian, kunjungan kedua merupakan rombongan dari SMAN 1 Sidoarjo dengan jumlah dua kali lipat, yakni 287 siswa. Salah seorang guru pembimbing SMAN 1 Sidoarjo menyampaikan, kunjungan ke UB merupakan salah satu usaha untuk terus mengikuti perkembangan dunia universitas.

"Banyak hal baru di UB dan kami berharap para siswa bisa mendapatkan informasi langsung tentang UB," ungkapnya.

Para pelajar kelas XI SMAN 1 Sidoarjo itu sangat antusias menyimak berbagai penjelasan tentang UB. Bahkan, salah seorang siswa, yakni Ardhi mengaku semakin termotivasi untuk menjadi mahasiswa UB kelak.

"UB memang universitas yang megah dan saya ingin masuk Fakultas Hukum nanti," tutur Ardhi.

SMA 7 Jakarta Targetkan 192 Siswa Kelas XII Ikut SNMPTN

Rachmad Faisal Harahap - Okezone 

SMA 7 Jakarta. (Foto: Faisal Harahap/Okezone)  
JAKARTA - SMA 7 Jakarta mengikutsertakan seluruh siswa kelas XII yang berjumlah 192 orang untuk mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). Sekolah negeri tersebut sebelumnya sudah ada sosialisasi dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Setiap siswa dari 192 siswa kelas XII, yakni IPA ada dua kelas dan IPS ada tiga kelas, dengan nilai rapor dari semester 1-5 diisi lewat PDSS, semua diikutkan," ungkap Guru Bimbingan Konseling SMA 7 Jakarta, Sruni Widjanti, saat dijumpai Okezone.

Adapun nilai yang akan dimasukkan berupa angka dari kriteria ketuntasan minimal yang terdiri dari pengetahuan dan pemahaman konsep. Siswa yang diikutkan PDSS pada tahun ini pun mengalami peningkatan sebesar 50 persen.

"Tahun ini 100 persen yang ikut PDSS (192 orang), tahun kemarin hanya 50 persen yang boleh ikut yang semuanya rekomendasi dari sekolah. 2012 ada tujuh orang yang keterima di PTN, 2013 ada 39 orang, salah satunya di UI, Brawijaya, UNS, dan UNJ. Dari 39 ada empat penerima bidikmisi (UI)," paparnya.

Menurut dia, nilai PDSS tersebut mencakup 17 mata pelajaran kecuali bidang keterampilan seperti seni, budaya, musik, PIK, Penjaskes yang dikategorikan masuk praktik.

"Nanti begitu sudah diisi semua di PDSS, siswa lalu memverifikasi kembali dan mereka diberi password untuk mengakses PDSS. Kalau salah isi atau diganti sendiri dan curang, nanti akan diblacklist," tutur dia.

Dalam PDSS, juga ada kolom remedial, serta tidak hanya mencakup nilai rata-rata siswa saja. Dia menambahkan, dalam PDSS juga berlaku untuk mereka yang pindah sekolah dan tidak mengubah nilai rapor.

"Untuk mengetahui lulus atau enggak dan masuk jalur undangan apa tidak, pihak sekolah enggak bisa tahu dan hanya pusat yang tahu (Kemendikbud). Apabila ada anak yang enggak ikut ke negeri dibuat surat perjanjian bahwa anak itu tidak ikut SNMPTN, karena kalau keterima tapi enggak daftar ya blacklist," bebernya.

Setelah diverifikasi dan semua beres, para siswa akan diberi password sendiri. Mereka harus menyimpannya serta mengubah passwordnya, setelah itu barulah mendaftar SNMPTN sendiri yang didampingi oleh pihak sekolah.

20 Januari, Kampus Swasta Se-Indonesia Tumplek ke DPR

BANDUNG - Keluarga Besar Masyarakat Perguruan Tinggi Swasta (PTS) mengimbau semua kampus swasta diliburkan pada 20 Januari mendatang. Imbauan ini merupakan bentuk permintaan perhatian pemerintah karena selama ini PTS merasa kurang diperhatikan.

Perwakilan Keluarga Besar Masyarakat Perguruan Tinggi Swasta Jawa Barat, Budi Djatmiko menyatakan, rencananya, pada 20 Januari 2014, seluruh perwakilan PTS akan datang ke DPR RI untuk mengadukan nasibnya.

"Kami mengimbau tanggal 20 Januari supaya ada libur nasional, seluruh PTS diliburkan supaya kami semua bisa datang ke DPR serta memberi masukan tentang bagaimana pendidikan dan masa depan Indonesia," ujar Budi Djatmiko, di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/1/2013).

Budi memaparkan, di Indonesia ada sekira 3.500 PTS. Poin utama yang akan mereka sampaikan adalah jangan ada lagi dikotomi antara PTN dan PTS. Dia juga ingin meminta pemerintah tidak terlalu membuat jurang perbedaan dalam memberikan bantuan bagi PTS.

Budi mencontohkan bantuan bagi PTN bisa mencapai Rp1 triliun. Sedangkan PTS hanya Rp200 miliar.

"Kami dituntut memiliki kualitas sama tapi pelurunya beda, perhatiannya beda," keluhnya.

Selain itu, Budi juga menuntut agar di masa depan ada akreditasi mandiri bagi PTS. Sebab, akreditasi dari BAN-PT selama ini terlalu berorientasi negeri.

"Dengan akreditasi (mandiri), perspektif (akreditasinya) swasta, tapi tetap bicara mengedepankan kualitas," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, dia juga mengimbau kepada publik agar pada Pemilu 2014 memilih capres dan cawapres yang peduli terhadap dunia pendidikan. Kepada presiden dan wapres terpilih, Budi meminta agar nantinya memilih Menteri Pendidikan, Dirjen Dikti, serta koordinator Kopertis yang betul-betul mengerti PTS  sehingga PTS betul-betul diperhatikan.

tentang sistem pendidikan Indonesia..

Jika bicara soal sistem pendidikan, kita akan banyak menemukan retorika dan kontradiksi yang membuat kita akan tertegun menyaksikan kenyataan yang ada di negara kita. Banyak pihak yang menyuarakan idealisme namun terbentur oleh sistem yang entah bagaimana caranya kita bisa mendeskripsikannya.


Baru saja saya melakukan ritual brainstorming berkedok ngemil es krim; seperti yang biasa saya lakukan sejak dua tahun lalu bersama dua orang teman kuliah saya. Mungkin saking lamanya kami tidak bertemu dan saking randomnya, akhirnya kami membahas random topics mulai dari e-ktp, pemilihan presiden, film dan novel sci-fi, lowongan pekerjaan bidang IT, hingga sistem pendidikan di Indonesia.
Awalnya kami membahas mengenai pembagian konsentrasi paket di program studi saya, yang memang dirasa kurang spesifik. Jika dibandingkan dengan sistem penjurusan di luar negeri, spesifikasi keminatan di sekolah-sekolah Indonesia memang cenderung ‘terlambat’ dan terlalu general. Jika di luar negeri pada jenjang high school para siswa sudah dapat menentukan sendiri mata pelajaran yang bisa dipilih sesuai keminatan, di Indonesia siswa menengah kita masih dijejali dengan berbagai mata pelajaran umum yang belum tentu juga sesuai dengan bidang yang akan dituju pada jenjang perguruan tinggi. Pada jenjang sekolah menengah siswa berlomba-lomba untuk bisa masuk jurusan ilmu alam, namun pada akhirnya mereka malah banyak yang banting setir ke jurusan sosial ketika kuliah. Kasihan juga kan siswa jurusan sosial yang kesempatan kuliahnya tergusur akibat inconsistency siswa jurusan ilmu alam yang beralih jurusan?
Di negara kita, stereotip masyarakat cenderung menjadikan mindset generasi mudanya untuk belajar agar bisa menjadi pegawai, sehingga jurusan yang diminati adalah jurusan teknik, ekonomi akuntansi, atau kedokteran. Selain jurusan tersebut, dianggap kurang menjual, dan mengakibatkan kurangnya keminatan terhadap bidang-bidang lain. Padahal sebenarnya tidak ada bidang ilmu yang tidak bermanfaat di dunia ini, kan?
Justru negara kita yang konon merupakan negara agraris dan maritim seharusnya bisa dikembangkan melalui sumber daya manusianya yang melimpah. Namun pada kenyataannya, dari tahun ke tahun sumber daya manusia di bidang pertanian dan kelautan semakin lama semakin punah. Sistem pendidikan di Indonesia terlalu mengacu pada dunia industri, sehingga pengetahuan mendasar soal bercocok tanam atau kelautan malah terabaikan. Jika semua generasi muda dididik untuk menjadi pegawai, lalu siapa yang akan mengelola pertanian dan kelautan Indonesia? Akibatnya, banyak sarjana yang berebut lowongan pekerjaan, padahal sumber daya alam Indonesia masih banyak yang belum teroptimalisasi. Seharusnya pendidikan anak dispesifikasikan sejak tingkat menengah untuk dapat mengembangkan potensi alam daerahnya dengan baik. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi makmur akibat optimalisasi sumber daya manusia dan alamnya yang terintegrasi dengan baik.
Cara berpikir anak-anak Indonesia sejak kecil juga sudah dikotak-kotakkan, sehingga mereka menjadi kurang kreatif. Sejak kecil anak-anak Indonesia sudah di-brainwash dengan cara pandang orang dewasa, melalui judgement benar-salah terhadap karya mereka. Tidakkah disadari bahwa hal tersebut merupakan pembunuhan karakter terhadap diri mereka? Sesuatu yang berbeda dari pandangan orang dewasa akan dianggap salah dan bisa jadi malah membuat mental anak tersebut menjadi inferior. Anak-anak akan ragu untuk mengutarakan pendapat dan kreatifitasnya karena takut dinilai salah oleh lingkungannya.
Sistem pendidikan yang ada sudah menjadi kurang relevan jika dibandingkan dengan tuntutan zaman sekarang. Sistem pendidikan dengan standar kelulusan tertentu juga cenderung melahirkan generasi dengan mindset pintar di bidang akademis namun belum tentu mampu bertahan hidup. Anak-anak diberi standar kelulusan tertentu, sehingga mereka harus belajar untuk mengejar target tersebut, namun membuat mereka melupakan soft skills lain yang penting dan bermanfaat untuk mereka dalam kepentingan bertahan hidup. Padahal apa sih tujuan mereka belajar sedemikian giatnya kalau bukan untuk bisa bertahan hidup? Kembali kondisi ini menghasilkan sarjana yang berebut lowongan pekerjaan di dunia industri, padahal masih banyak peluang lain untuk menghasilkan uang jika saja mereka mau berpikir sedikit lebih kreatif.
Kuncinya, sistem pendidikan seharusnya bisa melahirkan generasi yang mau dan mampu berpikir kreatif agar negara kita bisa lebih maju. Dengan adanya generasi yang kreatif, bidang pekerjaan tidak melulu terpusat pada dunia industri dan potensi sumber daya alam serta sumber daya manusia Indonesia dapat teroptimalisasi.
Saya memang tidak punya pengetahuan mumpuni soal bagaimana mengatur sistem pendidikan yang sepatutnya, namun setidaknya sedikit pandangan ini bisa memberikan kontribusi untuk membuka mata kita, terutama pihak yang ingin berkecimpung di dunia pendidikan agar mengubah mindset-nya menjadi lebih kreatif. Negara kita butuh generasi yang kreatif untuk bisa memajukan bangsanya. Negara kita butuh generasi yang kreatif untuk bisa menjawab retorika bangsa yang mengalami defisiensi kebanggaan sebagai warga negara ini.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost