Jika bicara soal sistem pendidikan, kita akan banyak menemukan
retorika dan kontradiksi yang membuat kita akan tertegun menyaksikan
kenyataan yang ada di negara kita. Banyak pihak yang menyuarakan
idealisme namun terbentur oleh sistem yang entah bagaimana caranya kita
bisa mendeskripsikannya.
Baru saja saya melakukan ritual
brainstorming berkedok
ngemil es krim; seperti yang biasa saya lakukan sejak dua tahun lalu
bersama dua orang teman kuliah saya. Mungkin saking lamanya kami tidak
bertemu dan saking randomnya, akhirnya kami membahas
random topics mulai dari e-ktp, pemilihan presiden, film dan novel
sci-fi, lowongan pekerjaan bidang IT, hingga sistem pendidikan di Indonesia.
Awalnya kami membahas mengenai pembagian konsentrasi paket di program
studi saya, yang memang dirasa kurang spesifik. Jika dibandingkan
dengan sistem penjurusan di luar negeri, spesifikasi keminatan di
sekolah-sekolah Indonesia memang cenderung
‘terlambat’ dan terlalu general. Jika di luar negeri pada jenjang
high school
para siswa sudah dapat menentukan sendiri mata pelajaran yang bisa
dipilih sesuai keminatan, di Indonesia siswa menengah kita masih
dijejali dengan berbagai mata pelajaran umum yang belum tentu juga
sesuai dengan bidang yang akan dituju pada jenjang perguruan tinggi.
Pada jenjang sekolah menengah siswa berlomba-lomba untuk bisa masuk
jurusan ilmu alam, namun pada akhirnya mereka malah banyak yang banting
setir ke jurusan sosial ketika kuliah. Kasihan juga kan siswa jurusan
sosial yang kesempatan kuliahnya tergusur akibat
inconsistency siswa jurusan ilmu alam yang beralih jurusan?
Di negara kita, stereotip masyarakat cenderung menjadikan
mindset
generasi mudanya untuk belajar agar bisa menjadi pegawai, sehingga
jurusan yang diminati adalah jurusan teknik, ekonomi akuntansi, atau
kedokteran. Selain jurusan tersebut, dianggap kurang menjual, dan
mengakibatkan kurangnya keminatan terhadap bidang-bidang lain. Padahal
sebenarnya tidak ada bidang ilmu yang tidak bermanfaat di dunia ini,
kan?
Justru negara kita yang konon merupakan negara agraris dan maritim
seharusnya bisa dikembangkan melalui sumber daya manusianya yang
melimpah. Namun pada kenyataannya, dari tahun ke tahun sumber daya
manusia di bidang pertanian dan kelautan semakin lama semakin punah.
Sistem pendidikan di Indonesia terlalu mengacu pada dunia industri,
sehingga pengetahuan mendasar soal bercocok tanam atau kelautan malah
terabaikan. Jika semua generasi muda dididik untuk menjadi pegawai, lalu
siapa yang akan mengelola pertanian dan kelautan Indonesia? Akibatnya,
banyak sarjana yang berebut lowongan pekerjaan, padahal sumber daya alam
Indonesia masih banyak yang belum teroptimalisasi. Seharusnya
pendidikan anak dispesifikasikan sejak tingkat menengah untuk dapat
mengembangkan potensi alam daerahnya dengan baik. Dengan demikian,
Indonesia dapat menjadi makmur akibat optimalisasi sumber daya manusia
dan alamnya yang terintegrasi dengan baik.
Cara berpikir anak-anak Indonesia sejak kecil juga sudah
dikotak-kotakkan, sehingga mereka menjadi kurang kreatif. Sejak kecil
anak-anak Indonesia sudah di-
brainwash dengan cara pandang orang dewasa, melalui
judgement
benar-salah terhadap karya mereka. Tidakkah disadari bahwa hal tersebut
merupakan pembunuhan karakter terhadap diri mereka? Sesuatu yang
berbeda dari pandangan orang dewasa akan dianggap salah dan bisa jadi
malah membuat mental anak tersebut menjadi
inferior. Anak-anak akan ragu untuk mengutarakan pendapat dan kreatifitasnya karena takut dinilai salah oleh lingkungannya.
Sistem pendidikan yang ada sudah menjadi kurang relevan jika
dibandingkan dengan tuntutan zaman sekarang. Sistem pendidikan dengan
standar kelulusan tertentu juga cenderung melahirkan generasi dengan
mindset
pintar di bidang akademis namun belum tentu mampu bertahan hidup.
Anak-anak diberi standar kelulusan tertentu, sehingga mereka harus
belajar untuk mengejar target tersebut, namun membuat mereka melupakan
soft skills
lain yang penting dan bermanfaat untuk mereka dalam kepentingan
bertahan hidup. Padahal apa sih tujuan mereka belajar sedemikian giatnya
kalau bukan untuk bisa bertahan hidup? Kembali kondisi ini menghasilkan
sarjana yang berebut lowongan pekerjaan di dunia industri, padahal
masih banyak peluang lain untuk menghasilkan uang jika saja mereka mau
berpikir sedikit lebih kreatif.
Kuncinya, sistem pendidikan seharusnya bisa melahirkan generasi yang
mau dan mampu berpikir kreatif agar negara kita bisa lebih maju. Dengan
adanya generasi yang kreatif, bidang pekerjaan tidak melulu terpusat
pada dunia industri dan potensi sumber daya alam serta sumber daya
manusia Indonesia dapat teroptimalisasi.
Saya memang tidak punya pengetahuan mumpuni soal bagaimana mengatur
sistem pendidikan yang sepatutnya, namun setidaknya sedikit pandangan
ini bisa memberikan kontribusi untuk membuka mata kita, terutama pihak
yang ingin berkecimpung di dunia pendidikan agar mengubah
mindset-nya
menjadi lebih kreatif. Negara kita butuh generasi yang kreatif untuk
bisa memajukan bangsanya. Negara kita butuh generasi yang kreatif untuk
bisa menjawab retorika bangsa yang mengalami defisiensi kebanggaan
sebagai warga negara ini.