Selasa, 07 Januari 2014

tentang sistem pendidikan Indonesia..

Jika bicara soal sistem pendidikan, kita akan banyak menemukan retorika dan kontradiksi yang membuat kita akan tertegun menyaksikan kenyataan yang ada di negara kita. Banyak pihak yang menyuarakan idealisme namun terbentur oleh sistem yang entah bagaimana caranya kita bisa mendeskripsikannya.


Baru saja saya melakukan ritual brainstorming berkedok ngemil es krim; seperti yang biasa saya lakukan sejak dua tahun lalu bersama dua orang teman kuliah saya. Mungkin saking lamanya kami tidak bertemu dan saking randomnya, akhirnya kami membahas random topics mulai dari e-ktp, pemilihan presiden, film dan novel sci-fi, lowongan pekerjaan bidang IT, hingga sistem pendidikan di Indonesia.
Awalnya kami membahas mengenai pembagian konsentrasi paket di program studi saya, yang memang dirasa kurang spesifik. Jika dibandingkan dengan sistem penjurusan di luar negeri, spesifikasi keminatan di sekolah-sekolah Indonesia memang cenderung ‘terlambat’ dan terlalu general. Jika di luar negeri pada jenjang high school para siswa sudah dapat menentukan sendiri mata pelajaran yang bisa dipilih sesuai keminatan, di Indonesia siswa menengah kita masih dijejali dengan berbagai mata pelajaran umum yang belum tentu juga sesuai dengan bidang yang akan dituju pada jenjang perguruan tinggi. Pada jenjang sekolah menengah siswa berlomba-lomba untuk bisa masuk jurusan ilmu alam, namun pada akhirnya mereka malah banyak yang banting setir ke jurusan sosial ketika kuliah. Kasihan juga kan siswa jurusan sosial yang kesempatan kuliahnya tergusur akibat inconsistency siswa jurusan ilmu alam yang beralih jurusan?
Di negara kita, stereotip masyarakat cenderung menjadikan mindset generasi mudanya untuk belajar agar bisa menjadi pegawai, sehingga jurusan yang diminati adalah jurusan teknik, ekonomi akuntansi, atau kedokteran. Selain jurusan tersebut, dianggap kurang menjual, dan mengakibatkan kurangnya keminatan terhadap bidang-bidang lain. Padahal sebenarnya tidak ada bidang ilmu yang tidak bermanfaat di dunia ini, kan?
Justru negara kita yang konon merupakan negara agraris dan maritim seharusnya bisa dikembangkan melalui sumber daya manusianya yang melimpah. Namun pada kenyataannya, dari tahun ke tahun sumber daya manusia di bidang pertanian dan kelautan semakin lama semakin punah. Sistem pendidikan di Indonesia terlalu mengacu pada dunia industri, sehingga pengetahuan mendasar soal bercocok tanam atau kelautan malah terabaikan. Jika semua generasi muda dididik untuk menjadi pegawai, lalu siapa yang akan mengelola pertanian dan kelautan Indonesia? Akibatnya, banyak sarjana yang berebut lowongan pekerjaan, padahal sumber daya alam Indonesia masih banyak yang belum teroptimalisasi. Seharusnya pendidikan anak dispesifikasikan sejak tingkat menengah untuk dapat mengembangkan potensi alam daerahnya dengan baik. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi makmur akibat optimalisasi sumber daya manusia dan alamnya yang terintegrasi dengan baik.
Cara berpikir anak-anak Indonesia sejak kecil juga sudah dikotak-kotakkan, sehingga mereka menjadi kurang kreatif. Sejak kecil anak-anak Indonesia sudah di-brainwash dengan cara pandang orang dewasa, melalui judgement benar-salah terhadap karya mereka. Tidakkah disadari bahwa hal tersebut merupakan pembunuhan karakter terhadap diri mereka? Sesuatu yang berbeda dari pandangan orang dewasa akan dianggap salah dan bisa jadi malah membuat mental anak tersebut menjadi inferior. Anak-anak akan ragu untuk mengutarakan pendapat dan kreatifitasnya karena takut dinilai salah oleh lingkungannya.
Sistem pendidikan yang ada sudah menjadi kurang relevan jika dibandingkan dengan tuntutan zaman sekarang. Sistem pendidikan dengan standar kelulusan tertentu juga cenderung melahirkan generasi dengan mindset pintar di bidang akademis namun belum tentu mampu bertahan hidup. Anak-anak diberi standar kelulusan tertentu, sehingga mereka harus belajar untuk mengejar target tersebut, namun membuat mereka melupakan soft skills lain yang penting dan bermanfaat untuk mereka dalam kepentingan bertahan hidup. Padahal apa sih tujuan mereka belajar sedemikian giatnya kalau bukan untuk bisa bertahan hidup? Kembali kondisi ini menghasilkan sarjana yang berebut lowongan pekerjaan di dunia industri, padahal masih banyak peluang lain untuk menghasilkan uang jika saja mereka mau berpikir sedikit lebih kreatif.
Kuncinya, sistem pendidikan seharusnya bisa melahirkan generasi yang mau dan mampu berpikir kreatif agar negara kita bisa lebih maju. Dengan adanya generasi yang kreatif, bidang pekerjaan tidak melulu terpusat pada dunia industri dan potensi sumber daya alam serta sumber daya manusia Indonesia dapat teroptimalisasi.
Saya memang tidak punya pengetahuan mumpuni soal bagaimana mengatur sistem pendidikan yang sepatutnya, namun setidaknya sedikit pandangan ini bisa memberikan kontribusi untuk membuka mata kita, terutama pihak yang ingin berkecimpung di dunia pendidikan agar mengubah mindset-nya menjadi lebih kreatif. Negara kita butuh generasi yang kreatif untuk bisa memajukan bangsanya. Negara kita butuh generasi yang kreatif untuk bisa menjawab retorika bangsa yang mengalami defisiensi kebanggaan sebagai warga negara ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost